Kajian Islam

Ustadz Adi Hidayat Ungkap Cara Membedakan Rezeki yang Diuji dan Terhambat Karena Dosa, Ini Penjelasannya Menurut Al-Qur’an

10
×

Ustadz Adi Hidayat Ungkap Cara Membedakan Rezeki yang Diuji dan Terhambat Karena Dosa, Ini Penjelasannya Menurut Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini

Dalam tayangan YouTube Adi Hidayat Official pada 3 Agustus 2026, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan hakikat rezeki, perbedaan ujian dan hambatan akibat dosa, serta amalan yang dianjurkan untuk meraih keberkahan rezeki berdasarkan dalil Al-Qur'an.

Tampilan thumbnail video kajian Ustadz Adi Hidayat yang membahas perbedaan rezeki sebagai ujian dan rezeki yang terhambat akibat dosa pada kanal YouTube Adi Hidayat Official, Senin (3/8/2026). (kedannews.co.id/Foto: Ist)

MEDAN, tv.kedannews.co.id – Pembahasan mengenai rezeki dalam perspektif Islam kembali menjadi perhatian masyarakat setelah Ustadz Dr. (H.C) Adi Hidayat, Lc., M.A menyampaikan ceramah bertajuk “Membedakan Rezeki yang Diuji dan Rezeki yang Terhambat Karena Dosa” yang ditayangkan melalui kanal Adi Hidayat Official pada 3 Agustus 2026.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa banyak orang mempertanyakan apakah kesulitan memperoleh rezeki merupakan bagian dari ujian Allah SWT atau justru akibat dosa yang dilakukan seseorang.

Mengawali penjelasannya, ia mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap diri sendiri sebelum menyimpulkan penyebab terhambatnya rezeki.

“Ya sederhana, Anda sedang berdosa enggak gitu? Melakukan perbuatan dosa enggak? Yang dengan dosa itu menghambat rizki yang halal datang.”

Menurutnya, seseorang perlu memahami bahwa istilah rezeki bersifat netral. Rezeki dapat diperoleh melalui jalan yang halal maupun haram, sedangkan yang menentukan hukumnya adalah proses mendapatkannya.

“Rizki itu sifatnya bisa dua, bisa yang halal, bisa yang haram.”

Ia kemudian mengingatkan agar masyarakat tidak memahami rezeki hanya sebagai sesuatu yang halal.

“Jangan disebut dengan rizki itu konotasinya halal saja, tidak ada rizki yang haram. Rizki yang didapatkan dari proses yang haram. Awas ya, hati-hati.”

Dalam ceramah tersebut, Ustadz Adi Hidayat menerangkan bahwa Al-Qur’an memberikan petunjuk agar harta yang dimanfaatkan berasal dari sumber yang halal.

Ia mengutip firman Allah SWT:

“وَمِمَّا رَزَقْنَهُمْ يُنْفِقُونَ”

Ia menjelaskan bahwa para ulama menafsirkan kata mimma dalam ayat tersebut sebagai isyarat agar harta yang dinafkahkan berasal dari rezeki yang halal.

Tidak Ada Rezeki yang Terlambat

Lebih lanjut, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan bahwa pada hakikatnya tidak ada konsep rezeki yang terlambat. Menurutnya, Allah SWT telah menetapkan rezeki setiap manusia sesuai dengan kadar dan waktu yang telah ditentukan.

Ia kemudian mengutip Surah Az-Zariyat ayat 22.

“Wafissamai rizqukum wa ma tu’adun.”

Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan rezeki telah ditetapkan Allah SWT dan akan diberikan sesuai ikhtiar yang dilakukan manusia.

“Di langit telah ditetapkan rizkimu, terukur, dan akan diberikan, dijanjikan, diberikan sesuai dengan ikhtiarmu.”

Namun, menurutnya, bentuk rezeki tidak selalu berupa materi. Allah SWT dapat memberikan rezeki dalam bentuk pengalaman, ilmu, jaringan, maupun kemampuan yang akan bermanfaat pada masa mendatang.

Sebagai contoh, ia menggambarkan seseorang yang berkeliling menawarkan dagangan tetapi belum memperoleh pembeli. Dalam pandangannya, perjalanan tersebut tetap memiliki nilai karena dapat menambah pengetahuan mengenai lingkungan, mengenal calon pelanggan, hingga memahami peluang usaha yang kelak berguna.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa hasil usaha seseorang terkadang merupakan akumulasi dari berbagai ikhtiar yang telah dilakukan sebelumnya.

Allah yang Mengatur Rezeki

Dalam ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa manusia wajib berikhtiar, tetapi yang menentukan datangnya rezeki tetap Allah SWT.

“Yang memberikan rizki siapa? Allah.”

Ia melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan bahwa keberhasilan seseorang bukan semata-mata karena usaha yang dilakukan.

“Jadi bukan karena hebatnya Anda ikhtiar, rizki datang. Bukan. Karena Allah.”

Menurutnya, kondisi seseorang yang sudah bekerja keras tetapi belum memperoleh hasil bukan berarti Allah tidak memberikan rezeki, melainkan bisa jadi Allah sedang menyiapkan bentuk rezeki lain yang lebih bermanfaat.

Sholat Menjadi Amalan yang Ditekankan

Menjawab pertanyaan jamaah mengenai amalan yang dapat membantu memperoleh keberkahan rezeki, Ustadz Adi Hidayat menekankan pentingnya menjaga sholat, terutama bagi keluarga.

“Amalannya pertama, sholat.”

Ia juga mengajak pasangan suami istri untuk membiasakan sholat berjamaah dan berdoa bersama.

“Kalau sudah berkeluarga, kalau bisa sholatnya berjamaah.”

Dalam kesempatan tersebut, ia mengutip makna firman Allah SWT yang memerintahkan seorang kepala keluarga menjaga sholat anggota keluarganya.

“Perintahkan keluargamu sholat. Sabar dalam menjalani itu. Kita gak minta kamu yang menghasilkan rezeki. Dengan sholat itu, kamu yang kasihkan rezeki.”

Kisah Keluarga yang Mendapat Pertolongan Allah

Sebagai penutup kajian, Ustadz Adi Hidayat membagikan sebuah kisah nyata mengenai keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi.

Ia menceritakan seorang ayah yang pulang ke rumah dan mendapati anak-anaknya telah tertidur tanpa makan malam. Sang istri mengaku sengaja membiarkan anak-anak tertidur karena tidak ada makanan di rumah.

Namun, sang ayah meminta agar anak-anak dibangunkan untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu.

Dalam kisah tersebut, setelah keluarga itu selesai menunaikan sholat, seorang tetangga datang membawa makanan.

Tetangga tersebut mengaku awalnya menyiapkan hidangan untuk tamu yang akhirnya tidak jadi menyantap makanan tersebut. Ia kemudian bernazar akan memberikan makanan itu kepada orang pertama yang ditunjukkan Allah SWT dalam perjalanannya.

Peristiwa itu, menurut Ustadz Adi Hidayat, menjadi pelajaran bahwa manusia diperintahkan untuk fokus menjalankan kewajiban beribadah, sedangkan urusan rezeki merupakan ketetapan Allah SWT.

“Rezeki itu urusan Allah. Urusan kita itu menyembah Allah.”

Di akhir ceramahnya, ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah sebagai bagian dari ikhtiar memperoleh keberkahan hidup.

“Kami gak minta rizki darimu. Tapi kami akan berikan rizki kepadamu ketika kau membangun hubungan dengan ku, kata Allah.”

Kajian tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar tidak mudah berprasangka ketika menghadapi kesulitan ekonomi. Selain terus berikhtiar, setiap muslim juga dianjurkan melakukan muhasabah, menjauhi perbuatan maksiat, memperbaiki kualitas ibadah, serta meyakini bahwa Allah SWT adalah pemberi rezeki bagi seluruh makhluk-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *